Posts

Mengajar Itu Ngangenin

Image
Lama nggak ngeblog dan lama nggak ngajar, hemmm.... kesibukan pra dan pasca wisuda lah, applying sini dan sana, tes sini dan sana yang berahir dengan duduk di depan lepi hari ini dan pada saat ini, mengenang masa lalu :) Dari awal kuliah, memang orientasi masa depan adalah mengajar di universitas. beberapa waktu lalu ketika masih ngerjain skripsi dan ambil kerja part time di salah satu bimbingan belajar bahasa inggris di Malang, saya mengajar beberapa kelas yang kesemuanya anak SD. Butuh kesabaran dan tenaga beneran dah, apalagi di kelas kecil (murid-muridnya kelas 1 atau 2 SD) yang anak-anaknya aktif. Fiuh... (inget mereka langsung bikin senyum). Well, basically semua kelas yang saya ajar alhamdulillah anak-anaknya aktif semua, baik dalam hal akademik maupun motorik. Masih inget banget kelas-kelas rame, seru, dan nggemesin itu. Kelas pertama yang saya pegang, kelas Dira (nama kelas diambil dari salah satu muridnya yg jadi captain of the class). Isinya 9 (berubah2 sih, tapi sekitar...

Suara Rakyat Jelata : "Regulasi Berdasar Nurani"

Kalo Dedi Mizwar bilang "Alangkah Lucunya Negeri Ini" di facebook, bakal saya kasi jempol deh, ato di RT berkali-kali kalo di twitter. Habis ngurus surat kuasa ke Kecamatan, kembali terbersit angan, kenapa regulasi di negriku tercinta ini masih nggak jelas, terutama dalam pelayanan masyarakat. Dulu waktu mengurus KTP di kelurahan di kota kelahiran saya, Tulungagung, mengurus surat keterangan nggak pakai PDAM untuk keperluan kuliah, ngurus surat keterangan warga setempat, selalu hal yang sama saya temui. Di akhir pengurusan, kita dikenai biaya administrasi tanpa resi yang tak pasti, alias (kalo orang jawa bilang) sak ikhlase . Demikian juga yang barusan terjadi di salah satu Kecamatan di Malang. Setelah kemarin menaruh berkas surat kuasa yang akan dimintakan pengesahan dari kecamatan (tanda tangan Camat dan stempel Kecamatan), hari ini saya mengambilnya. Sebenernya udah saya siapkan memang, sejumlah rupiah dalam amplop untuk jaga-jaga kalau-kalau kultur biaya administrasi sei...

Garuda Fights Back

26 Desember 2010, Final FFA Indonesia vs Malaysia di Malaysia tadi membuahkan hasil akhir 3-0 buat Malaysia. That was the first time I saw such match, pertama kalinya liat pertandingannya FFA, pertama kalinya liat pertandingannya Indonesia. Kemaren pas Nina nginep di rumah, kita crita-crita soal Christian Gonzales, Bachdim, Bambang, Yongki, and so on about timnas lah pokoknya. Emang yang lagi populer banget hari-hari ini kan itu, ya selaen bahasan cewe pada umumnya (soal Dewi Persik, Jupe, Cinta Fitri, de el el). Waktu dicritain pas Indonesia lawan Filipin yang dramatis gitu aja ampe terharu, crita tok lo padahal, dalam kondisi masih buta info plus gak da bayangan sama yang namanya Bachdim dan sejenisnya. Makanya bertekad bulat hari ini pokoknya kudu nonton, support the very team sampe detik penghabisan. Eh.... sekalinya nonton dibikin guuuemes mes mes, kalah pisan, huhuhu.... Mreka sampe grogi gitu gara2 aq nonton paling ya, jadi nggak konsen, kebobolan terus jadinya, (hohoho, ngayal....

Morning Twitter

Dear my Lord, There're millions words I want to say to Thee all of which, are "Thank You for blessing me"... Dear my Lord, There's nothing in this world could ever give such a great feelings, most of which, are composure and tranquility. The dew, these twitters, the air and those greens, are all You create for none but for good, of these kinsmen and kinsfolks that're here under Your will. None in this earth I want to be but I am, as You have brought into being this poor little creature filled by a great love from and to Thee. Just, I beg You wholeheartedly my Dear Almighty, I have a very fragile heart these days, and You are the one and only that shows the path of righteousness among this earth of things blurry. The best path of righteousness. I AM afraid this heart would be missled and I do try to hold tight Your light. But only a little poor creature I am, who just, have only You in feet under my skin.

Bahayanya Sebuah Berita

Indonesia, my beloved country where I live in, lagi musim bencana. Gak tanggung tanggung, bencana seakan nggrebek negara ini. Banjir di beberapa daerah terutama di Jabar terutama lagi di Jakarta, Tsunami di Sumatra lagi (Mentawai, Sumatra Barat), sama gunung meletus (Merapi, Jogja). Yang gemes tuh kalo liat berita yang bahasanya provokatif ato liat facebook dan media elektronik kaya' Yahoo! Answer, comment detik, sama kolom diskusi, pun media cetak di kolom opini. Jadi kesel-kesel sendiri sama komentar-komentar nggak mutu yang bisanya cuman nyalahin orang, dalam hal ini pemerintah pastinya. Walo sama sekali nggak terkait sama afiliasi pemerintahan apa pun, tapi degan liat ato baca ky gitu ikutan panas. Justru orang awam sih kalo menurutku, yang cuman bisa ngritik, komen pedes, dan nggak ngasi solusi. Tong kosong nyaring buntinya. Kemaren liat berita Banjir di salah satu tv swasta, pemberitaannya profokatif banget. Judul tag line nya lo "Pemerintah tidak tanggap ...(apa gitu...

One More Step to Go

Alhamdulillaaaaah ahirnya seminar hasil juga. Revisinya banyak euy. Bismillah, I can do it!!! I really felt grateful not only because I have made it, but also because I got the courage from my friends. Walo cuma sms, wall post di facebook, ato komen di status facebook, their words are such a spirit they delivered. Thanks a lot guys. Hebat yah yang nyemangatin. Hmm... biar banyak revisi yang musti dibabat, tapi hati ini udah lebih ringan. Liat temen yang masih pada berjuang juga buat ngejar seminar2, I really want to encourage them, jangan sampe sempet mereka kepikiran buat give up ato males-malesan. Kalo ada donor spirit ato niat, bakal q donor wes sebanyak-banyaknya, hohoho. GOSH! The only thing I really wanna do right now is just thank You a million times, but no words seem to represent my gratefulness to Thee, my dear Almighty... And nothing could express how much I love you guys, my dearest friends, (jadi berasa bikin kata pengatar) If only I could mention names in the acknowle...

“Nemu” Sumthin Nu (My Teaching Pace)

Alhamdulillah thank Godness kemaren udah mulai ngajar di salah satu bimbel bahasa Inggris. Ngajar di bimbel... otomatis ngajar kelas, bukan privat as I used to be. Pernah ngajar kelas sih sebelomnya, tapi waktu jadi pengampu performance buat maba yang notabene udah nggak segede jagung lagi. But this time, kelas yang q pegang penghuninya sembilan unyil-unyil kelas satu sama dua SD. Inget mereka selalu bikin (paling nggak) senyum, dan kadang ketawa, hahaha.... (tuh kan ketawa). Menyenangkan, soalnya anak-anaknya rame banget, pinter2, imut2, celotehan pula. Mungkin karna basicaly I have my own little brother and sister at their age kali yah, jadi seneng dan nyaman aja. Tiur, Dhea, sama Ahmad yang rajin dan pinter, paling sering hafal kalo tebak-tebakan. Si kurus Fifi sama Putri yang suka duduk sebelahan, rajin juga dan doyan banget mimpin prayer. Tessa yang suka ngobrol sendiri, tapi dia pinter dan gampang hafal. Ekha, adeknya Ahmad yang cute kearab-arab an. Hehehe, kalo pas ketinggala...